Jaycee Amazona, perancang muda berusia 26 tahun asal Baler, Aurora, resmi meluncurkan fashion label bernama Orangedot. Perjalanan label ini berakar dari pengalaman Jaycee menata dan memperbaiki pakaian bekas, yang lambat laun membentuk pandangannya tentang desain, keberlanjutan, dan nilai kerja keras.

Sejak lama, Jaycee tidak melihat keterbatasan sebagai penghalang. Dari bangku sekolah hingga studi formal di bidang manajemen, ia merajut pelajaran hidup menjadi dasar yang kuat bagi Orangedot—sebuah merek yang ingin menempatkan kualitas, orisinalitas, dan kerajinan sebagai prioritas.
Dari ukay-ukay ke fashion label Orangedot
Kisah awal Jaycee dimulai di pasar pakaian bekas. Setiap akhir pekan, ia bangun sebelum fajar untuk mencari potongan pakaian yang bisa diperbaiki dan dijual kembali. Aktivitas itu bukan sekadar cara mengolah kain; bagi Jaycee, usaha itu merupakan jalan membantu ibunya yang bekerja sebagai penjahit tunggal serta mendukung kelangsungan pendidikannya.
Di sekolah, Jaycee bahkan harus menyembunyikan barang-barang temuan karena menjual di lingkungan kampus tidak diperbolehkan. Namun pengalaman menyisir tumpukan pakaian, memperbaiki kerusakan, dan memberi nilai baru pada setiap potongan menjadi ladang belajar yang tak ternilai. Ia mengenang masa itu sebagai waktu yang membentuk ketekunan, disiplin, dan rasa tanggung jawabnya.
Perpaduan kreativitas dan manajemen operasional
Setelah menuntaskan studi Bachelor of Science in Business Administration dengan jurusan Operations Management di STI San Jose del Monte, Bulacan, Jaycee membawa perspektif bisnis ke ranah kreatif. Baginya, kreativitas tidak boleh bertentangan dengan prinsip bisnis; keduanya justru harus saling menguatkan.
“Studi Operations Management mengajarkan saya bahwa kreativitas dan bisnis seharusnya tidak bersaing. Kreativitas menjadi lebih bermakna ketika didukung disiplin, perencanaan, dan keberlanjutan,” ujar Jaycee. Pandangan ini menjadi landasan operasional Orangedot, di mana setiap desain dinilai tak hanya dari nilai estetik tetapi juga dari aspek produksi dan konservasi bahan.
Koleksi perdana: kerajinan Jepang, jiwa Filipina
Koleksi perdana Orangedot menampilkan perpaduan presisi kerajinan Jepang dengan sensitivitas budaya Filipina. Jaycee menegaskan bahwa mengambil inspirasi dari luar tidak berarti kehilangan identitas lokal. Sebaliknya, menurutnya, belajar dari berbagai kebudayaan justru memperkaya hasil desain selama akar dan keaslian tetap dijaga.
Lewat koleksinya, Jaycee berharap menunjukkan bahwa perancang Filipina mampu berkarya setara dengan label internasional melalui kualitas, orisinalitas, dan ketelitian dalam pengerjaan. Orangedot ingin menjadi bagian dari generasi merek lokal yang berani tampil di panggung global tanpa mengorbankan identitas.
Pilihan berkelanjutan dan tanggung jawab desain
Bagi Jaycee, membangun brand bukan sekadar memproduksi busana indah. Ada pertimbangan etis dan praktis yang kerap memaksa dirinya memilih meninggalkan desain yang sebenarnya dicintai. Beberapa ide dibatalkan karena tidak praktis untuk diproduksi atau akan menimbulkan limbah material yang tidak perlu.
Keputusan-keputusan sulit itu mengajarkan satu hal penting: membangun merek bertanggung jawab berarti melakukan seleksi yang ketat demi keberlanjutan. Jaycee menempatkan efisiensi bahan dan proses sebagai prioritas agar setiap produk tidak hanya bernilai estetika namun juga etis dalam produksinya.
Pesan untuk generasi muda kreatif
Pengalaman Jaycee memberi pelajaran bagi mereka yang bermimpi memasuki dunia fesyen meski terbentur keterbatasan ekonomi. Ia menekankan bahwa kreativitas saja tidak cukup; disiplin, perencanaan, dan keberlanjutan harus menyertai bakat agar usaha kreatif bisa bertahan dan berkembang.
“Ada desain yang saya cintai namun tidak dimasukkan karena tidak praktis atau menghasilkan limbah berlebih. Keputusan itu sulit, tetapi mengingatkan saya bahwa membangun brand adalah soal membuat pilihan yang bijak, bukan sekadar menambah karya,” ungkapnya.
Bagi Jaycee, peluncuran Orangedot bukan sekadar pencapaian karier. Dari menjual ukay-ukay sembunyi-sembunyi di lorong sekolah hingga meluncurkan label sendiri, perjalanan itu menjadi bukti bahwa bakat dapat membuka jalan, namun ketekunan, tujuan, dan disiplinlah yang membuat pintu itu tetap terbuka.
