Suriya mengenang tradisi Diya sejak kelahirannya yang kemudian menjadi sumber inspirasi untuk sebuah adegan dalam film terbarunya. Tradisi Diya itu, menurut sang aktor, memiliki makna keluarga yang dalam dan tertangkap dalam momen sinematik saat adegan menampilkan bayi Charvik.

Kenangan ini muncul saat Suriya berbicara tentang pengalaman pribadi yang dirasa sangat menyentuh, terutama sebagai orangtua yang harus membagi waktu antara keluarga dan tuntutan profesi. Ia menyebut kebiasaan keluarga yang berkaitan dengan kelahiran dan masuknya anak ke rumah sebagai sesuatu yang penuh simbolisme.
Tradisi Diya dan maknanya dalam keluarga
Dalam penuturan Suriya, tradisi keluarga itu adalah meletakkan kaki sang anak terlebih dulu saat memasuki rumah baru atau saat pertama kali dibawa pulang. Tindakan sederhana ini, kata dia, dipandang sebagai bentuk keberkahan dan sambutan hangat bagi anggota baru keluarga. Kebiasaan itu tak hanya bersifat ritual, tetapi juga sarat emosi karena melibatkan harapan dan doa orangtua.
Penggambaran tradisi tersebut kemudian diadaptasi ke dalam salah satu adegan film, di mana kehadiran bayi menyiratkan suasana kebahagiaan dan syukur. Adegan itu menghadirkan nuansa intim keluarga yang menjadi napas emosional di antara alur cerita lain dalam film.
Adegan dengan bayi Charvik yang terinspirasi dari kebiasaan nyata
Suriya mengungkap bahwa adegan menampilkan bayi Charvik mengambil inspirasi dari pengalaman nyata dalam keluarganya. Penyutradaraan dan pengarahan adegan itu berusaha menangkap kehangatan yang ia rasakan saat tradisi dilakukan, termasuk reaksi keluarga dan suasana rumah yang dipenuhi kegembiraan.
Menurutnya, elemen-elemen kecil seperti cara memegang anak, ekspresi orangtua, dan kebiasaan ritual mampu memberikan kedalaman emosional pada adegan tersebut. Suriya berharap penonton bisa merasakan kesederhanaan dan keintiman momen keluarga yang dihadirkan lewat adegan itu.
Kehidupan profesional versus momen keluarga
Suriya juga berbagi rasa kehilangan karena jadwal kerja yang padat membuatnya tak selalu bisa hadir pada setiap peristiwa kecil dalam kehidupan keluarga. Ia mengakui bahwa keseimbangan antara karier dan peran sebagai ayah tetap menjadi tantangan.
Walau demikian, mencetak pengalaman pribadi ke dalam karya seni memberikan cara bagi Suriya untuk merayakan dan mengabadikan momen tersebut. Menurutnya, film menjadi medium yang memungkinkan cerita-cerita personal tersalur ke khalayak tanpa mengurangi keaslian perasaan yang mendasarinya.
Respons emosional dan simbolisme: “Dewi Lakshmi telah pulang ke rumah”
Dalam menjelaskan suasana sukacita itu, Suriya mengutip ungkapan tradisional yang biasa dipakai keluarga ketika menyambut kelahiran atau kedatangan anak ke rumah: “Dewi Lakshmi telah pulang ke rumah.” Kalimat ini menggambarkan bagaimana kehadiran bayi dianggap membawa berkah dan kemakmuran dalam kultur keluarga.
Ungkapan semacam itu, kata Suriya, bukan sekadar kata-kata seremonial, melainkan cerminan harapan dan rasa syukur yang nyata. Dengan memasukkan nuansa tersebut ke layar lebar, ia berniat memperlihatkan nilai-nilai keluarga yang universal dan mudah dirasakan oleh penonton dari berbagai latar.
Tanggal rilis dan harapan untuk film
Film Vishwanath and Sons yang memuat adegan tersebut dijadwalkan tayang pada 14 Agustus 2026. Kehadiran unsur-unsur personal seperti tradisi Diya diharapkan menambah kedalaman narasi dan mengundang resonansi emosional dari penonton.
Suriya, melalui pengakuannya soal momen keluarga yang menginspirasi adegan, menegaskan bahwa pengalaman pribadi sering kali menjadi sumber kreatif yang kuat bagi proses pembuatan film. Penonton akan melihat bagaimana aspek-aspek keseharian yang sederhana bisa diangkat menjadi bagian penting dari cerita yang lebih luas.
Dengan memasukkan momen nyata itu ke dalam Vishwanath and Sons, film tersebut tidak sekadar bercerita tentang alur fiksi, tetapi juga membawa fragmen kehidupan nyata yang menyentuh, menjembatani pengalaman pribadi dengan tontonan yang bisa dinikmati khalayak luas.
