Sullivan Fortner, pianis asal New Orleans yang kini berusia 39 tahun, memilih cara yang lebih lugas dan spontan untuk merekam albumnya yang keenam, Leave That in There. Di sela-sela penampilannya di festival North Sea Jazz di Rotterdam, Fortner bercerita tentang keputusan artistiknya untuk membiarkan insting mengemuka dan menghadapi bekas luka yang ditinggalkan badai Katrina.

Keputusan itu bukan sekadar soal teknik rekaman. Fortner mengatakan album barunya juga merupakan ruang untuk menegaskan kembali pengalaman dan ketabahan komunitas penyintas Katrina, sambil menampilkan sisi paling jujur dari dirinya sebagai musisi.
Sullivan Fortner dan capaian karier
Fortner adalah pemenang tiga Grammy, termasuk penghargaan untuk karya Southern Nights pada 2025. Baru-baru ini ia juga menerima penghargaan Larry J Bell, sebuah hadiah bernilai US$300.000 yang diberikan setiap empat tahun kepada pianis jazz yang menonjol. Pengakuan tersebut memberi Fortner keberanian untuk memperlihatkan versi diri yang lebih luas pada Leave That in There, tanpa terlalu banyak suntingan pasca-produksi.
Pendekatan rekaman: spontanitas atas kesempurnaan
Dalam percakapan saat jeda pertunjukan, Fortner menjelaskan perubahan pendekatannya dari rekaman-rekaman sebelumnya yang sarat pengambilan ulang dan penyuntingan. “Untuk rekaman ini, saya mengonsumsi edible dan saya berpikir, ‘sudahlah’,” ujarnya, menggambarkan keputusan untuk membiarkan momen-momen musik terjadi secara alami. Langkah itu dimaksudkan untuk menangkap keaslian permainan — kesalahan, kejutan, dan respons instingtif yang menurutnya lebih mewakili dirinya sebagai seniman.
Musik sebagai refleksi gerak: metafora tornado
Fortner kerap menggunakan gambaran dinamis untuk menjelaskan musik Black. “Musik Black bergerak maju dan ke atas, kau tahu? Never forward or upward,” katanya, lalu menambahkan, “Ini seperti tornado yang terus membesar dan bergerak semakin cepat,” sambil menggerakkan jarinya menunjukkan visualisasi gerak yang tak henti. Gambaran itu muncul bukan hanya sebagai pernyataan estetika, tetapi juga sebagai cerminan energi kolektif dan transformasi budaya yang terus berlangsung.
Menghadapi trauma Katrina lewat nada dan kejelasan
Album Leave That in There dianggap Fortner sebagai medium untuk menyentuh kembali pengalaman traumatis yang dialami banyak orang di New Orleans akibat Katrina. Tanpa memaparkan rincian peristiwa, Fortner menekankan pentingnya memberikan ruang musikal bagi para penyintas untuk terlihat dan terdengar. Musik di album ini dimaksudkan sebagai bentuk perayaan ketabahan sekaligus kejelasan—suatu usaha untuk mengubah rasa sakit menjadi ekspresi artistik yang membebaskan.
Dialog dengan penonton dan implikasi artistik
Fortner berbicara seperti ia bermain: penuh keunikan, halus, dan sedikit nakal. Pendekatannya yang lebih spontan di rekaman diproyeksikan pula ke panggung, tempat ia berinteraksi dengan penonton dan rekan bermusiknya tanpa hambatan berlebih. Kejujuran itu, menurut Fortner, memungkinkan pesan tentang ketabahan dan kelanjutan budaya untuk sampai lebih kuat kepada mereka yang mendengarkan.
Penampilannya di festival internasional seperti North Sea Jazz menegaskan posisi Fortner sebagai salah satu pianis jazz kontemporer yang tak hanya berprestasi, tetapi juga berani membawa isu-isu lokal dan pengalaman kolektif ke dalam karya. Album ini—dan cara pembuatannya—menjadi bukti bahwa musik mampu menjadi sarana penyembuhan dan penguatan, sambil tetap mempertahankan intensitas artistik.
