Pemerintah telah merancang peta jalan 23 poin untuk Viksit Bharat 2047 yang menekankan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Viksit Bharat 2047 dimaksudkan bukan sekadar program pemerintah, melainkan gerakan nasional yang melibatkan anak-anak, pelajar, pekerja terampil, pelaku industri, hingga warga senior.

Rangkaian aksi ini muncul dari pertemuan antara Perdana Menteri Narendra Modi dengan para Sekretaris Pemerintah India pada 22 Juli, dan kemudian disampaikan melalui komunikais tertulis oleh Sekretaris Kabinet TV Somanathan pada 29 Juli. Dokumen tersebut merinci prioritas di bidang olahraga, vokasi, pertanian, kecerdasan buatan, teknologi domestik, farmasi, kapasitas industri, dan reformasi tata kelola.
Viksit Bharat 2047 dalam Sorotan Publik
Salah satu perhatian paling menonjol dalam peta jalan adalah pengembangan olahraga untuk jangka panjang. Pemerintah diminta memulai identifikasi bakat sejak usia dini—khususnya anak-anak yang saat ini berusia lima sampai sepuluh tahun dan berpotensi mewakili negara pada Olimpiade 2036. Sekolah dan perguruan tinggi diminta mendorong partisipasi dalam kompetisi serta menampilkan prestasi siswa di berbagai tingkat.
PM Modi menekankan bahwa tanggung jawab pengembangan olahraga tidak hanya berada pada Kementerian Olahraga. Diperlukan pendekatan lintas kementerian dan sektor, termasuk kerja sama antara Kementerian Olahraga dan Pariwisata untuk memajukan wisata olahraga, serta keterlibatan UMKM, departemen teknologi, dan startup dalam hal inovasi, infrastruktur, dan teknologi olahraga. Pengorganisasian kompetisi di tempat kerja juga dianjurkan untuk meningkatkan kebugaran dan kebersamaan tim.
Pendidikan vokasi dan upskilling
Salah satu pilar penting lainnya adalah integrasi pendidikan vokasi ke dalam kurikulum sekolah. Tujuannya agar siswa memperoleh kemampuan praktis sejak dini, selaras dengan standar ketenagakerjaan global. Kursus di Institut Pelatihan Teknik (ITI) akan ditinjau untuk meningkatkan daya serap kerja dan membuka jalur bagi lulusan ITI agar dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan tertentu.
Rencana ini juga menyarankan pemetaan permintaan tenaga terampil di pasar global agar program pelatihan domestik lebih relevan dengan kebutuhan luar negeri. Contoh yang disebutkan adalah potensi menghubungkan tenaga terampil dari wilayah Timur Laut dengan peluang pekerjaan di negara seperti Jepang. Selain kemampuan teknis, penguatan keterampilan lunak dan literasi digital menjadi bagian dari strategi agar pekerja India lebih kompetitif di pasar internasional.
Melibatkan dua generasi: mahasiswa teknik dan lansia sebagai mentor
Dokumen peta jalan mengusulkan pemanfaatan pengalaman warga senior dan pensiunan profesional sebagai mentor, termasuk di ITI, dengan skema honorarium yang mengadopsi konsep serupa “Professor of Practice” dalam kebijakan pendidikan nasional. Di sisi lain, mahasiswa teknik akhir diharapkan dapat menjadi relawan selama dua sampai tiga bulan di ITI untuk membawa pengetahuan teknis terbaru ke lembaga vokasi.
Dengan demikian, peta jalan mencoba menyatukan kebijaksanaan praktis dari generasi tua dan inovasi teknis dari generasi muda, sehingga pengalaman profesional tidak terbuang dan pengetahuan baru cepat terintegrasi pada tingkat pendidikan vokasi.
Reformasi pendidikan pertanian dan diversifikasi tanaman
Peta jalan juga menyoroti kebutuhan penyesuaian kurikulum perguruan tinggi pertanian agar lebih sesuai dengan kondisi agro-klimat regional. Universitas pertanian diminta meninjau apakah mata kuliah yang diajarkan mencerminkan realitas daerah masing-masing dan tantangan yang muncul, alih-alih mengandalkan pendekatan seragam.
Agenda agrikultur yang diusulkan menekankan diversifikasi tanaman dan perluasan irigasi yang hati-hati—dengan catatan bahwa perluasan tersebut tidak mendorong penanaman komoditas yang paling boros air. Pendidikan pertanian diharapkan juga menyiapkan lulusan yang mampu merespons kebutuhan lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Secara garis besar, peta jalan 23 poin ini mendorong agar tujuan Viksit Bharat 2047 benar-benar menjadi kepedulian bersama. Melalui pendekatan “whole-of-government” dan partisipasi seluruh masyarakat—dari anak-anak hingga lansia—Rencana ini ingin mentransformasikan visi menjadi gerakan kebangsaan yang konkret dan berkelanjutan.
