Pameran tunggal Shrikant Arvind Kharat berjudul “Pigments of Antiquity” dipajang di Gallery FPH mulai 1 hingga 15 Agustus. Dalam rangkaian karyanya, Kharat menyingkap kembali warisan arsitektur India melalui bahasa visual yang kaya — dari detail candi hingga garis-garis landmark kota.

Tonasi warna dan sapuan media menjadi jembatan antara memori dan bentuk, membawa pengunjung menelusuri fragmen sejarah yang dihidupkan ulang lewat cat air, akrilik, dan pena. Warisan arsitektur hadir sebagai subjek sekaligus narasi yang mengikat setiap lukisan dalam koleksi ini.
Warisan Arsitektur dalam Sorotan Publik
Dalam pameran ini, media tradisional seperti cat air dipadukan dengan akrilik dan teknik pena untuk menghasilkan tekstur dan ketegasan garis. Pilihan medium memengaruhi cara cahaya, bayangan, dan ornamen arsitektural ditampilkan; cat air memberi kesan melayang dan memori, sementara akrilik menonjolkan bentuk dan warna yang lebih tegas. Pena digunakan untuk menangkap detail-detail halus, ukiran, dan lapisan-lapisan motif yang menjadi ciri khas bangunan bersejarah.
Menelusuri monumen dan landmark
Karya-karya Kharat menampilkan berbagai bangunan — dari monumen candi tradisional hingga landmark kota Mumbai — yang dipilih bukan semata karena bentuknya, melainkan karena kemampuan bentuk itu memicu ingatan kolektif. Setiap lukisan berfungsi seperti catatan visual: merekam elemen arsitektur yang sering terlewatkan dan sekaligus merayakan ketelatenan pembuatnya.
Baca juga: Sunday Roast La: Cosima Swayze dan Zoë de Givenchy Hadirkan Sunday Roast Bergaya LA yang Santai
Koleksi sebagai perjalanan visual
Kharat menggambarkan koleksi ini sebagai “perjalanan visual yang merayakan keterampilan tangan dan kenangan.” Deskripsi itu menjadi kunci pembacaan pameran: karya-karya bukan sekadar reproduksi rupa bangunan, melainkan refleksi tentang siapa yang membangun, motif yang diwariskan, dan bagaimana ingatan akan bentuk itu bertahan pada permukaan kanvas.
Pengalaman pengunjung di Gallery FPH
Pengaturan ruang pamer memperkuat hubungan antara karya dan tema. Pencahayaan yang tertata menyorot detail-detail pena dan lapisan cat, sementara jarak antar karya memberi ruang bagi pengunjung untuk merenung. Tanpa narasi tertulis yang panjang, setiap lukisan mengajak pengunjung membentuk garis cerita mereka sendiri mengenai asal-usul bentuk, proses pembuatan, dan fungsi simbolis arsitektur.
Walau berfokus pada bangunan, pameran ini juga menempatkan arsitektur sebagai medium pembawa cerita manusia: keterampilan tukang, tradisi motif, dan ingatan masyarakat yang menempel pada dinding dan fasad. Pendekatan Kharat menggabungkan apresiasi estetika dengan penghormatan terhadap proses pembuatan yang sering tak terlihat.
“Pigments of Antiquity” memberi ruang bagi penikmat seni untuk memaknai ulang hubungan antara bentuk dan memori. Dengan teknik campuran dan perhatian pada detail, Shrikant Arvind Kharat mengajak penonton menyimak ulang warisan arsitektur India sebagai warisan yang hidup, penuh lapisan makna dan tangan-tangan yang menorehkannya.
